Field trip Dosen Teknik Geologi IST AKPRIND

“Geowisata Cekungan Yogyakarta”

Teknik Geologi – Field Trip Geowisata Cekungan Yogyakarta dilaksanakan dalam rangka mendukung kegiatan rutin field trip Dosen Program Studi Teknik Geologi FTM-IST AKPRIND yang kali ini mengambil tema “budaya, wisata dan geologi” dilaksanakan pada 30 Agustus hingga 1 September 2019 di hari pertama Candi Kedisoko, Candi Kedulan, Candi Ratu Boko, Tebing Breaksi, Candi ijo dan hari kedua Lava bantal, Gunung Ireng, Gunung Nglanggeran.

  1. Candi Kadisoka

Candi Kadisoko dibangun dengan menggunakan andesit piroksen porfirik yang diduga bersumber di sekitarnya. Di dalam candi dijumpai bilik sedalam 2,5 m, luas 6,4 x 6,1 m, tinggi belum diketahui dan menyerupai lumbung padi. Candi ini tidak diketahui kapan dibangun dan apa fungsinya, serta tidak ditemukan petunjuk apapun di dalam bangunan.

Candi Kadisoko
Dr. Sri Mulyaningsih, S.T., M.T. sedang menjelaskan Candi Kadisoko dibangun dengan menggunakan andesit piroksen porfirik.

Pada masing-masing sudut mengindikasikan adanya tiang kayu. Masing-masing fragmen bangunan disusun saling mengunci secara lateral dan saling menindih. Secara petrografi jenis batunya andesit porfiritik (30%) dan andesit scoria (70%).

2. Candi Kedulan

Candi Kedulan terletak di Dusun Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, pada ketinggian 179 mdpl. Dalam komplek candi ditemukan prasasti bertahun 791 Çaka (869); menulis tentang renovasi candi dan pembangunan bendungan, untuk mengairi Desa Sumundul dan Pananggaran (BPPP DIY, 2004).

Pengamatan stratigrafi dan keruntuhan Candi Kedulan
Pengamatan stratigrafi dan keruntuhan Candi Kedulan oleh Arie Noor Rakhman, S.T, M.T.

3. Komplek Ratu Boko, Tebing Breksi dan Candi Ijo

Komplek Kraton Boko memiliki luas area sekitar 25 ha bangunannya merupakan perpaduan arsitektur khas Hindu dan Budha. Konstruksi bangunan disusun dari batu andhesit dan breksi pumis, sehingga sering disebut candi. Posisinya yang berada di atas bukit, menjadikan situs ini begitu megah dan menawan. Yang menarik di situs ini adalah bangunan berada pada satuan batuan vulkanik hasil erupsi eksplosif bertekanan tinggi, yang bisa jadi bertipe Plini- Megaplini, oleh Rahardjo dkk (1995) dikelompokkan ke dalam Formasi Semilir. Secara umum, Formasi Semilir tersusun atas batuan berstruktur masif sangat tebal (bisa mencapai lebih dari 10 m) hingga laminasi semu, berupa breksi pumis yang selanjutnya makin ke atas bergradasi menjadi tuf halus.

IST AKPRIND
Arie Noor Rakhman, S.T, M.T.

Secara umum, Formasi Semilir tersusun atas batuan berstruktur masif sangat tebal (bisa mencapai lebih dari 10 m) hingga laminasi semu, berupa breksi pumis yang selanjutnya makin ke atas bergradasi menjadi tuf halus. Itulah sebabnya oleh peneliti sebelumnya diidentifikasi sebagai batuan turbidit laut dalam.

  • Candi Ijo

Candi Ijo berada pada ketinggian 357-395 mdpl. Di dalam komplek candi, pada awalnya ditemukan 2 buah prasasti yang bertuliskan “Guywan” atau “Bhuyutan” dan “Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa” diulang sebanyak 16 kali; kedua kata itu diyakini sebagai suatu kutukan. Namun arti dari 11 tulisan tersebut belum terpecahkan sampai saat ini.

IST AKPRIND
Lokasi Pengamatan Geomorfologi dari Candi Ijo oleh Ir. Miftahussalam, M.T.
  • Tebing breksi

Tebing breksi terletak di depan Candi Ijo, pada awalnya merupakan kawasan pertambangan breksi pumis dan tuf Formasi Semilir oleh rakyat. Karena ketersediaannya hampir habis, penambangan dihentikan. Untuk kepentingan konservasi lahan dan edukasi, kawasan ini selanjutnya ditetapkan oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kawasan Cagar Budaya; yang selanjutnya dikembangkan sebagai kawasan wisata alam. Secara deskriptif, breksi pumis yang menyusun daerah ini dicirikan oleh struktur masif, gradasi dan berlapis; bagian atas berselingan dengan tuf, yang secara berangsur di atasnya berubah menjadi tuf berlapis dan laminasi. Secara regional, breksi pumis dan tuf memiliki kedudukan perlapisan batuan yang acak, mengindikasikan memiliki struktur silangsiur makro, yang mencirikan sebagai endapan gumuk pumis, dan diendapkan pada
sekitar fasies proksimal-medial.

4. Basalt Lava Bantal

Geowisata Lava Bantal berada di dasar sungai Opak Dusun Sumber-Watuadeg, Desa Jogotirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman. Di lokasi ini siapapun yang datang akan dimanjakan dengan suara gemericik air yang sangat jernih kebiruan, aliran sungai yang berhulu di kaki Gunung api Merapi. Selain di dasar sungai, lava bantal juga dijumpai di bukit kecil, makam Sumber yang terletak di utara jalan 50 meter di sebelah barat-baratlautnya. Sepintas nama Lava Bantal terdengar aneh. Pemilihan nama ini tak lain lantaran bentuk batuan yang ada di lokasi tersebut bergunduk menyerupai tumpukan bantal dari bekas aliran lava yang mengeras sejak jutaan tahun lalu. Selain aliran air sungai yang bersanding dengan tumpukan batuan lava, pengunjung yang datang di lokasi ini juga disajikan pemandangan hamparan padang rumput yang cukup luas. Biasanya, padang rumput ini dimanfaatkan warga 12 sekitar untuk menggembalakan ternak mereka seperti sapi dan kambing. Bagaimana tidak, lava yang merupakan cairan larutan magma yang keluar dari inti bumi melalui gunung berapi disandingkan dengan bantal yang terkesan empuk.

IST AKPRIND
Ibu Dr. Sri Mulyaningsih, S.T., M.T. dan Bapak Danis Agoes Wiloso, S.T., M.T. sedang berdiskusi komplek geowisata lava bantal diduga sebagai tubuh gunung api purbanya sumber dari lava bantal; pendopo komplek geowisata lava bantal, breksi dengan fragmen basalt dan matriks breksi pumis Formasi Semilir yang menjelaskan hubungan tidak selaras antara Formasi Kebo-Butak (lebih tua).

bukit kecil di sebelah barat lava bantal: diduga sebagai tubuh gunung api purbanya sumber dari lava bantal; pendopo komplek geowisata lava bantal, breksi dengan fragmen basalt dan matriks breksi pumis Formasi Semilir yang menjelaskan hubungan tidak selaras antara Formasi Kebo-Butak (lebih tua) dengan satuan breksi pumis, dan kenampakan lava bantal di Sungai Opak.

5. Gunung Nglanggeran

Gunung Nglanggeran dinamakan Gunung Api purba Nglanggeran, karena terletak di Gunung Nglanggeran atau Gunung Wayang. Ciri khas daerah ini disusun oleh agglomerat berumur Miosen Tengah, produk dari aktivitas gunung api tipe Stromboli, melalui jatuhan balistik. Tebal agglomerat yang sangat besar mendorong para peneliti kegunung-apian melakukan berbagai macam kajian, terkait dengan ciri fisik batuannya tersebut. Agglomerat Gunung Nglanggeran adalah anggota dari formasi Nglanggeran yang menumpang di atas Formasi Kebo-Butak, yang tersingkap di Terbah (sebelah timurnya), dan secara berurutan ditumpangi oleh breksi polimik, batupasir karbornatan dan serpih Formasi Sambipitu, napal dan batugamping Formasi Oyo, dan batugamping Formasi Wonosari.

6. Gunung Ireng

Dinamakan Gunung Ireng, karena warnanya yang “ireng” (bahasa Jawa yang artinya hitam). Warna hitam berkaitan dengan komposisi litologinya yang didominasi oleh batuan gunung api kaya Fe (dalam piroksen) yang mengalami oksidasi di dalam airlaut dangkal dan / oleh udara bebas (Mulyaningsih dkk., 2019). Puncak Gunung Ireng adalah morfologi tertinggi di Desa Pengkok, yang di sekitarnya merupakan lembah melingkar; di bagian selatan berbatasan dengan batuan karbonat Formasi Oyo dan Formasi Wonosari, sedangkan di bagian utara berhubungan dengan Formasi Semilir dan Formasi Nglanggeran secara berulang. Di pagi hari, dari Puncak Gunung Ireng, kita dapat menikmati sunrise (matahari terbit); indahnya semburat langit berwarna keemasan yang seolah menyala dari ujung timur dan kabut tipis yang menyelimuti Gunung Ireng, dengan udara yang masih sangat sejuk membuat betah di atas Puncak ini.

IST AKPRIND
Desi Kiswiranti, S.Si., M.Sc. menjelaskan retas andesit piroksen, dan breksi vulkanik dan material leher gunung api bagian atas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here